Karakteristik Pelaksanaan Bimbingan di Taman Kanak-kanak | Biasa Membaca -->

Karakteristik Pelaksanaan Bimbingan di Taman Kanak-kanak

Karakteristik Pelaksanaan Bimbingan di Taman Kanak-kanak
Diungkapkan bahwa setiap anak memiliki karakteristik tersendiri baik secara potensi maupun irama perkembangan. Keunikan kemampuan dan perkembangan pada satu anak tidak dapat disamakan dengan anak-anak lainnya, mereka memiliki ciri khas masing-masing. Ketika anak berada pada masa taman kanak-kanak, diharapkan anak mampu mencapai tugas-tugas perkembangan sesuai dengan masa perkembangannya. Ketidaktercapaian salah satu tugas tersebut dapat menimbulkan kesulitan atau hambatan untuk melaksanakan tugas pada masa berikutnya.

Perkembangan yang terjadi pada anak berkenaan dengan dimensi fisik, intelektual, sosial, emosi maupun bahasa. Setiap dimensi tidak berdiri sendirisendiri, tapi satu sama lain saling mempengaruhi Misalnya dalam aspek bahasa, bahasa merupakan alat untuk menyatakan pikiran dan perasaan kepada orang lain yang sekaligus berfungsi untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain.
Melalui bahasa anak dapat memperoleh ilmu pengetahuan, dan dengan berbahasa pula anak dapat berkomunikasi dengan sesama. Dari contoh ini terlihat bahwa perkembangan bahasa pada anak terkait dengan perkembangan intelektual dan sosial. Bila perkembangan bahasa anak terhambat maka perkembangan intelektual dan sosialnyapun akan mengalami hambatan.

Guru di taman kanak-kanak perlu membantu anak didik mengembangkan semua dimensi perkembangannya. Guru tidak hanya berperan sebagai pendidik tetapi juga sebagai pembimbing yang dapat memfasilitasi tumbuh kembangnya anak secara optimal. Pemahaman tentang tumbuh kembang anak dengan berbagai permasalahan yang mungkin dialami anak menjadi aspek penting yang harus dikuasai seorang guru taman kanak-kanak. Artinya, dalam melaksanakan fungsinya, seorang guru perlu memiliki wawasan yang cukup tentang perkembangan anak. Tidak semua anak mengalami perkembangan yang mulus dan lancar, ada anak yang menunjukkan kecenderungan adanya masalah yang berkenaan dengan masalah perkembangan fisik-motorik, intelektual, sosial, emosi maupun bahasa.

Masalah yang dialami anak akan turut mempengaruhi proses perkembangan anak secara normal. Masalah yang dibiarkan saja tanpa adanya upaya untuk memperbaiki, dapat membuat masalah tersebut berkembang lebih rumit lagi dan terlebih selama proses perkembangan masalah tersebut akan mengganggu anak. Masalah yang dialami anak terlihat dari perubahan perilaku, karena anak umumnya lebih bersifat terbuka, spontan dan apa adanya. Apa yang dialami anak cenderung tampak dari perilakunya, dan hal ini dapat diamati guru ketika anak beraktivitas dan berinteraksi dengan lingkungan.

Perubahan perilaku yang ditunjukkan anak mungkin bersifat temporer atau permanen. Perilaku yang bersifat temporer atau sementara merupakan suatu perilaku yang tiba-tiba ditunjukkan anak yang tidak biasanya anak lakukan, misalnya anak tiba-tiba menangis di dalam kelas, padahal biasanya anak tidak bersikap seperti itu. Sedangkan perilaku yang bersifat permanen atau menetap cenderung secara terus menerus dimiliki atau ditunjukkan anak. Misalnya bila si anak menginginkan sesuatu selalu saja dia akan ngamuk atau marah-marah di dalam atau di luar kelas tanpa bisa dihentikan kecuali bila keinginannya dipenuhi.

Untuk membantu anak mencapai perkembangan yang optimal, maka guru perlu memiliki kemampuan dalam memberikan layanan bimbingan. Bimbingan di taman kanak-kanak merupakan suatu kegiatan yang cukup unik dan juga cukup menantang. Kondisi ini terjadi karena bimbingan bagi anak taman kanakkanak sangat jauh berbeda dengan bimbingan bagi siswa sekolah lainnya seperti siswa SD, SMP atau SMU. Bimbingan di taman kanak-kanak memiliki karakteristik tersendiri. Hal ini terjadi karena masih terbatasnya pola pikir dan pemahaman anak sehingga pola bimbingan yang diberikan harus disesuaikan dengan pola pikir dan pemahaman anak yang masih sangat sederhana.

Kondisi lain yang menyebabkan bimbingan di taman kanak-kanak bersifat unik karena sangat sulit memisahkan kegiatan bimbingan dengan kegiatan pembelajaran.. Guru tidak hanya bertugas menciptakan proses pembelajaran bagi anak tapi guru juga harus mampu berperan sebagai seorang pembimbing. Petugas bimbingan untuk jenjang pendidikan taman kanak-kanak masih sangat jarang, petugas bimbingan lebih banyak berkiprah pada jenjang pendidikan sekolah menengah. Oleh karenanya, tugas bimbingan menjadi tugas lain seorang guru di taman kanak-kanak

Dalam melaksanakan bimbingan, guru juga memiliki keterbatasan lain. Dalam waktu 2 – 2,5 jam pembelajaran di taman kanak-kanak, guru harus mampu melaksanakan kegiatan pengajaran juga bimbingan dan latihan. Keterbatasan peran guru yang merangkap sebagai pengajar dan pembimbing disertai jumlah waktu yang relatif singkat mengharuskan guru memiliki kemampuan tersendiri guna merencanakan dan melaksanakan program dan layanan bimbingannya.

Pelaksanaan program dan layanan bimbingan untuk anak taman kanakkanak sangatlah jauh berbeda dengan pelaksanaan program dan layanan bimbingan pada jenjang sekolah yang lebih tinggi. Selama ini banyak guru yang terjebak pada suatu konsep bimbingan yang keliru. Artinya mereka kurang menyadari adanya kesalahan konsepsi dan praktek bimbingan di taman kanakkanak. Kesalahan konsep tersebut sudah cukup meluas sehingga seolah-olah sudah dianggap wajar.

Adanya kekeliruan pemahaman konsep pelaksanaan bimbingan di taman kanak-kanak dapat dipahami melalui beberapa fenomena pelaksanaan bimbingan seperti berikut ini.
1. Pembelajaran di taman kanak-kanak pada dasarnya harus dilaksanakan dalam nuansa bermain. Layanan bimbingan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran perlu menggunakan nuansa bermain pula. Berbeda dengan pelaksanaan bimbingan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi yang memiliki waktu, tempat dan petugas yang berbeda dalam membantu penanganan para siswanya. Biasanya bila siswa pada jenjang yang lebih tinggi memiliki masalah atau perlu layanan bimbingan, petugas bimbingan akan melakukan konsultasi dengan siswa di ruang khusus. Kondisi seperti ini sangat tidak memungkinkan dilakukan pada anak taman kanak-kanak.
2. Peran teman sebaya dalam upaya membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi anak taman kanak-kanak cukup dominan karena pada usia ini anak memiliki rasa keterikatan yang sangat tinggi dengan teman sebayanya. Kondisi ini berbeda dengan siswa pada jenjang lebih tinggi. Dalam mengatasi masalahnya, siswa pada jenjang lebih tinggi lebih bersifat individual. 
3. Hubungan anak dengan orang tua pada usia taman kanak-kanak masih sangat dekat. Anak masih sangat tergantung pada orang tua, dan tidak sedikit pula permasalahan yang dihadapi anak bersumber dari keadaan orang tua. Pelibatan orang tua dalam penyelesaian permasalahan yang dihadapi anak berbeda dengan penyelesaian masalah yang dihadapi siswa pada jenjang yang lebih tinggi.

Selain adanya kekeliruan konsepsi tentang pelaksanaan bimbingan di taman kanak-kanak, ada faktor lain yang menyebabkan pelaksanaan layanan bimbingan di taman kanak-kanak kurang dapat dilaksanakan seperti halnya pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan
tersebut antara lain adalah :
1. Anak masih sulit menyadari bahwa dirinya mungkin sedang mengalami masalah. Masalah pada anak lebih nampak dari perubahan tingkah laku dan sangat bersifat situasional (tergantung pada kondisi dan situasi saat itu)
2. Pola berpikir anak usia taman kanak-kanak masih sederhana, anak masih belum dapat memahami hal-hal yang terjadi dan mengapa terjadi dalam suatu kehidupan
3. Tidak ada waktu khusus untuk melakukan layanan bimbingan pada anak, bimbingan dilaksanakan terintegrasi dengan proses pembelajaran
4. Keterbatasan kemampuan guru dalam melaksanakan layanan bimbingan, guru taman kanak-kanak tidak dibekali pengetahuan dan keterampilan khusus dalam melaksanakan bimbingan. 
 
Agar guru dapat melaksanakan bimbingan di taman kanak-kanak, maka guru perlu mulai menyadari adanya perbedaan-perbedaan karakteristik anak yang dihadapinya. Anak taman kanak-kanak perlu dipahami sesuai dengan dunia anak. Beberapa karakteristik bimbingan di taman kanak-kanak yang dapat dijadikan rujukan guru adalah sebagai berikut :

1. Proses bimbingan harus disesuaikan dengan pola pikir dan pemahaman anak
Pelaksanaan bimbingan di taman kanak-kanak relatif cukup sulit untuk dilaksanakan. Seseorang yang sudah terbiasa melakukan bimbingan terhadap siswa SMU misalnya, belum tentu dapat melakukan bimbingan terhadap anak usia taman kanak-kanak. Kondisi ini terjadi bukan disebabkan karena berbedanya langkah-langkah bimbingan, tetapi lebih disebabkan oleh berbedanya karakteristik anak yang dibimbing.

Sebagai contoh, untuk melakukan dialog dengan siswa yang bermasalah, petugas bimbingan di SMU dapat menemui siswa tersebut dan dapat menggali lebih dalam permasalahan yang dihadapi dengan menggunakan berbagai pendekatan bimbingan. Dengan proses dialog juga, guru dapat mencari penyebab dari permasalahan yang dihadapi siswa. Melalui cara ini petugas bimbingan dapat memberikan pemahaman kepada siswa yang bermasalah tersebut untuk memahami kondisi yang dialaminya dan membantu mengubah perilaku serta sekaligus memecahkan masalah yang dihadapi.

Dialog dengan anak taman kanak-kanak untuk menemukan dan memberikan pemahaman tentang masalah yang sedang dihadapi relatif sulit dilakukan. Pola pikir anak taman kanak-kanak yang masih sangat sederhana dengan penguasaan bahasa yang masih terbatas akan menyulitkan pembimbing untuk memahami apa yang disampaikan anak. Keluguan bahasa dan pola pikir tersebut menuntut guru taman kanak-kanak untuk menguasai teknik-teknik lain yang bervariatif supaya dapat memahami apa yang dikatakan atau dirasakan anak.

Sebagai contoh, ketika di kelas guru menemukan seorang anak yang sering menghisap ibu jarinya. Pada saat proses bimbingan, guru tidak bisa menegur langsung kepada anak bahwa menghisap ibu jari itu tidak baik dan tidak sopan. Pola pikir anak taman kanak-kanak yang masih sederhana belum dapat memahami apa arti tidak baik dan tidak sopan, atau mungkin pada diri anak bertanya mengapa menghisap ibu jari tidak boleh.

Sikap sering menghisap ibu jari di dalam kelas merupakan suatu kondisi yang tidak dapat dibiarkan begitu saja, karena sikap seperti ini cenderung terlihat tidak baik. Oleh karenanya, untuk memahami permasalahan mengapa si anak sering menghisap ibu jarinya, guru tidak dapat langsung melakukan dialog dengan anak, kalaupun dialog dilakukan akan membuahkan hasil yang sangat terbatas.

Bila permasalahan si anak mengisap ibu jari disebabkan karena anak merasa cemas tidak ada ibu atau pengasuh di sampingnya, maka dalam proses dialog dengan anak guru akan sulit untuk dapat mengungkap hal itu. Guru tidak dapat memperoleh informasi yang diharapkan hanya dari anak saja. Kondisi itu bukan karena anak tidak dapat terbuka kepada guru akan tetapi lebih disebabkan karena terbatasnya pola pikir dan penguasaan bahasa anak.

Anak taman kanak-kanak masih sangt polos sehingga pada umumnya relatif jarang berbohong atau menutupi permasalahan yang dihadapinya. Untuk dapat mengungkap permasalahan yang dihadapi anak, hal utama yang harus diperhatikan oleh guru adalah guru harus dapat memasuki pola pikir anak. Memasuki pola pikir anak yang masih sangat sederhana bukanlah suatu pekerjaan mudah. Pada umumnya orang dewasa sudah terbiasa dengan pola pikir yang kompleks dan rumit. Untuk dapat memasuki pola pikir anak, guru dituntut untuk terlebih dahulu memahami pola pikir anak yang masih sederhana.

Dalam proses dialog dengan anak taman kanak-kanak yang bermasalah hal lain yang perlu diperhatikan adalah kecenderungan guru untuk membawa atau menggiring anak memasuki pola pikir orang dewasa. Kondisi ini terkadang terjadi tanpa disadari oleh guru itu sendiri. Misalnya, ada anak yang karena kepolosannya bertanya kepada gurunya : “Bu guru kenapa datang kesiangan”. Biasanya secara spontan atau tanpa disadari, guru menjawab dengan kata “karena jalannya macet”. Jawaban guru tersebut akan membingungkan anak karena anak dalam pola pikirnya akan menafsirkan kata macet dengan sangat beragam. Misalnya anak mengenal kata “macet” ketika ia meminta pada ibunya untuk dibukakan botol minuman, karena sulit dibuka ibunya mengatakan “ya, tutup botolnya macet”. Atau anak mengenal kata macet ketika ia mempunyai pengalaman memainkan mobil-mobilannya, mainan anak tersebut tidak bisa jalan karena rodanya tidak dapat digerakkan, orang tuanya mengatakan “roda mobil-mobilannya macet”. Jawaban yang diberikan guru tadi merupakan suatu contoh adanya penarikan pola pikir anak menjadi pola pikir orang dewasa, walaupun dilakukan tanpa disadari.

2. Pelaksanaan bimbingan terintegrasi dengan pembelajaran
Pada bagian terdahulu sudah dipaparkan secara umum bahwa proses bimbingan di taman kanak-kanak dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran. Hal ini terjadi karena upaya membantu perkembangan anak tidak dapat dipilah-pilah antara satu dimensi dengan dimensi perkembangan lainnya. Pelaksanaan bimbingan dilaksanakan secara bersama-sama dengan pelaksanaan pengajaran, artinya, guru taman kanak-kanak pada saat akan merencanakan kegiatan pengajaran harus juga memikirkan bagaimana perencanaan bimbingannya. Dengan kata lain, pada saat guru memikirkan program pengajaran di taman kanak-kanak, juga harus memikirkan tentang program bimbingannya.

Pemisahan antara program pengajaran dengan program bimbingan kerapkali dirasakan sebagai suatu pekerjaan yang sulit bagi guru taman kanak-kanak, padahal dalam kegiatan pengajaran mereka sehari-hari, merekapun sudah melaksanakan bimbingan sambil mengajar tanpa menyadari bahwa apa yang dilakukan itu termasuk ke dalam katagori kegiatan bimbingan.

Sebenarnya dalam proses pendidikan di taman kanak-kanak, tidak saja hanya terdiri dari bimbingan dan pengajaran, tetapi ada juga satu komponen lain yang tidak dapat dipisahkan yaitu latihan. Ketiga kegiatan tersebut secara bersama-sama harus diberikan kepada anak didik oleh guru sehingga harus direncanakan secara baik.

3. Waktu pelaksanaan bimbingan sangat terbatas
Interaksi guru dengan anak selama belajar di taman kanak-kanak rata-rata hanya 2,5 jam. Keterbatasan waktu ini mengharuskan guru untuk meramu kegiatan pengajaran, bimbingan dan latihan secara bersama-sama. Selain alasan waktu penggabungan ketiga komponen pendidikan tersebut, juga lebih disebabkan oleh pendidikan di taman kanak-kanak yang mengharuskan guru untuk selalu memperhatikan seluruh dimensi perkembangan anak. Guru harus dapat mengembangkan seluruh dimensi baik fisik, intelektual, sosial, emosi maupun bahasa anak-anak.

Pengembangan seluruh dimensi tersebut secara umum tidak dapat dipisahkan. Artinya, dalam mengembangkan salah satu dimensi perkembangan secara bersama-sama juga harus mengembangkan dimensidimensi lainnya. Dengan kata lain, secara sederhana dapat dikatakan bahwa kegiatan pengajaran, bimbingan dan latihan bagi anak taman kanak-kanak harus dilaksanakan secara bersamaan.

Kegiatan pengajaran yang lebih menekankan pada pengembangan dimensi intelektual apabila dilaksanakan tanpa bimbingan dan latihan tidak akan mendapatkan hasil yang optimal. Sebagai contoh, guru akan memberikan memperkenalkan konsep dasar matematika sederhana pada anak-anak. Pada saat guru memperkenalkan kaidah-kaidah dasar matematika sederhana yang berkaitan dengan aspek intelektual maka pada saat yang bersamaan guru juga harus dapat menumbuhkan rasa senang terhadap materi matematika sederhana tersebut. Mendorong anak untuk menyenangi matematika sederhana merupakan kegiatan bimbingan.

Anak taman kanak-kanak pada umumnya baru memperoleh pengalaman pendidikan yang terjadwal dan terstruktur ketika dia mulai masuk taman kanak-kanak. Kehidupan sehari-hari di rumah sebelum mereka di taman kanak-kanak sudah terbiasa tidak terstruktur dan terjadwal. Akibatnya pada saat anak harus mengikuti pembelajaran, banyak ditemukan anak yang pada akhirnya tidak mau belajar. Untuk menanggulangi kemungkinan berkembangnya permasalahan tersebut, guru taman kanak-kanak harus menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga dapat tumbuh rasa senang pada diri anak untuk bermain dan belajar di taman kanak-kanak. Bila pada diri anak sudah ada rasa senang dan merasa aman berada di lingkungan taman kanak-kanak, maka anak akan datang dengan rasa senang pula. Kegiatan yang dilaksanakan guru seperti ini dapat dikatagorikan sebagai kegiatan bimbingan

Untuk memberikan ilustrasi tentang pelaksanaan ketiga kegiatan di taman kanak-kanak yaitu pengajaran, bimbingan dan latihan, di bawah ini akan dikemukakan contoh sederhana. Ibu guru pada satu waktu pembelajaran akan mengajarkan konsep dasar matematika tentang penjumlahan. Untuk memberikan pemahaman tentang konsep tersebut, guru perlu memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik kemampuan anak yaitu pola berpikir yang masih sederhana, perlu media yang jelas, bahasa yang jelas dan dalam nuansa bermain. Guru dapat memilih media buahbuahan untuk membantu memberikan penjelasan kepada anak. 

Penjelasan dapat diawali dengan bercerita kemudian mengarah kepada mengenal konsep matematika sederhana. Misalnya, guru mengatakan “Anak-anak, siapa yang senang buah apel? Ibu mau bertanya pada anak-anak. Bila seorang ibu baru pulang dari pasar dan membawa tiga buah apel, kemudian ayah datang dan
membawa dua buah apel juga. Kira-kira di rumah kita punya berapa apel ya?” Pertanyaan di atas diungkapkan disertai media dan ekspresi yang menyenangkan pada anak. Dari contoh sederhana itu guru dapat memberikan pengajaran tentang konsep matematika sederhana pada anak. Dalam konteks pengajaran itu juga guru dapat membimbing anak, ketika berinteraksi guru mendorong anak untuk menyenangi matematika karena menggunakan media dan cara penyampaian yang menyenangkan. Dalam kegiatan itu guru juga dapat melatih kemampuan psikomotorik anak dengan dilanjutkannya membuat gambar atau menggunting bentuk apel.
4. Pelaksanaan bimbingan dilaksanakan dalam nuansa bermain
Seperti yang telah diungkapkan di atas bahwa layanan bimbingan tidak dapat dipisahkan dengan proses pengajaran. Pemisahan yang sulit dilakukan guru dalam melaksanakan fungsinya sebagai seorang pengajar dan pembimbing menjadikan pelaksanaan bimbingan mengikuti prinsip pembelajaran di taman kanak-kanak, yaitu menggunakan prinsip bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain. Prinsip ini mengikuti dunia anak yang senantiasa sarat dengan dunia bermain. Bermain merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dunia anak, dan bahkan dapat dikatakan tiada hari tanpa bermain. Bermain bagi anak merupakan suatu aktivitas tersendiri yang sangat menyenangkan yang mungkin tidak bisa dirasakan atau dibayangkan oleh orang dewasa. Dalam bermain anak belajar mengembangkan kemampuan fisik-motoriknya seperti menggerak-gerakkan jari jemari dan mengembangkan otot-otot kasar anak. Sering kita perhatian anak yang tiada henti menggerakkan tubuhnya seolah tiada lelah untuk bergerak. Dari aktivitas itu, anak mengembangkan kemampuan fisiknya.

Dengan bermain anak juga mengembangkan kemampuan intelektualnya, anak belajar memecahkan suatu persoalan, belajar mengambil suatu keputusan, atau belajar mengenal dan mengingat berbagai benda yang ada disekitarnya. Selain mengembangkan intelektualnya, dengan bermain anak juga mengembangkan kemampuan sosial dan emosinya. Anak belajar bagaimana mengenal orang lain, belajar berinteraksi dengan orang lain dan mengendalikan dirinya. Hal lain yang dikembangkan anak dalam bermain, anak juga mengembangkan kemampuan bahasa. Ketika berinteraksi anak berkomunikasi dengan anak lain, belajar mengerti perkataan dan ungkapan orang atau teman lain.
 
Dari paparan di atas dapat dipahami bahwa walaupun waktu anak banyak dihabiskan dengan bermain, namun pada dasarnya lewat bermain pula anak belajar tentang sesuatu dalam kehidupannya. Bimbingan di taman kanak-kanak adalah bimbingan yang berhadapan dengan dunia anak, karena dunia anak adalah bermain maka bimbingan yang dilakukan guru senantiasa dapat dilakukan juga dalam nuansa bermain.
 
Pelaksanaan bimbingan dalam nuansa bermain tetap harus memperhatikan kaidah-kaidah bimbingan, anak dibantu memecahkan masalah dan mengembangkan berbagai aspek kemampuan dengan mengunakan nuansa bermain dalam pendekatannya. Satu contoh yang menggambarkan bimbingan dengan nuansa bermain dapat dilakukan dengan menggunakan metode bermain peran. Bermain peran merupakan suatu aktivitas bermain yang sering sekali dilakukan oleh anak taman kanak-kanak. Dengan menggunakan metode ini, guru selaku pembimbing dapat memilih tema sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi. Misalnya, dari hasil pengumpulan data ditemukan anak yang kurang memiliki kemampuan berkomunikasi. Guru dapat menentukan peran-peran seperti apa yang akan dimainkan anak termasuk memfasilitasi anak yang kurang kemampuan berkomunikasinya. Bermain peran adalah kegiatan yang sering dilakukan anak maka dengan bermain peran guru menggiring nuansa bermain anak dengan muatan bimbingan.

5. Adanya keterlibatan teman sebaya
Usia taman kanak-kanak adalah masa peralihan dari lingkungan keluarga ke lingkungan sekolah sebagai lingkungan yang lebih luas. Pada usia ini, ketertarikan anak pada interaksi teman sebaya mulai tumbuh dan berkembang, anak sering terlihat berkelompok dan berkomunikasi dengan teman sebayanya. Dorongan untuk mendapatkan teman dalam aktivitas bermain, membuat anak memiliki keterikatan terhadap teman sebaya.Kebutuhan anak akan teman sebaya seperti ini menjadikan pelaksanaan bimbingan di taman kanak-kanak perlu dilakukan dengan adanya keterlibatan teman sebaya. Walaupun pelaksanaan bimbingan dilakukan dalam nuansa bermain yang menyenangkan tetapi keterlibatan teman sebaya atau seusia anak perlu menjadi perhatian.

Keterlibatan teman sebaya menjadi suatu aspek yang perlu dipertimbangkan guru dalam melaksanakan bimbingan di taman kanak-kanak, karena melalui teman sebaya teknik-teknik bimbingan dan upaya membantu mengatasi masalah yang dialami anak dapat dilaksanakan. Contoh yang dapat dikaji berkaitan dengan interaksi teman sebaya dapat kita lihat pada suatu kegiatan tertentu di dalam kelas. Seorang anak yang memiliki masalah dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya, dapat dibantu lewat interaksi dengan sebaya. Misalnya guru mengajak anak untuk mengikuti kegiatan kelompok membuat sarang burung. Anggota kelompok melaksanakan tugas masingmasing sesuai dengan kesepakatan dalam kelompok, sementara anak yang bermasalah dilibatkan sebagai peserta pasif. Dengan bantuan guru, anak tersebut sedikit demi sedikit diajarkan untuk mau berinteraksi dengan lingkungan. Selain itu, guru dapat melibatkan teman sebaya untuk mengajak mengerjakan tugas tersebut secara bersama-sama, karena anak memiliki kebutuhan dengan teman sebaya, maka keterlibatan teman sebaya dalam layanan bimbingan yang dilakukan guru dapat menjadi media yang tepat bagi anak.

6. Adanya keterlibatan orang tua
Orang tua merupakan pihak yang tidak dapat dipisahkan dari proses bimbingan., karena orang tua merupakan orang yang paling dekat dengan anak. Ketika anak berada di taman kanak-kanak, guru berperan sebagai pengganti orang tua, sedangkan waktu yang dimiliki guru untuk melaksanakan layanan bimbingan relatif sangat terbatas. Mengingat permasalahan yang dihadapi anak tidak dapat dibiarkan begitu saja, maka
peran orang tua dalam membantu tumbuh kembang anak merupakan suatu hal yang sangat penting. Agar diperoleh kerjasama yang baik dengan orang tua maka guru selaku pembimbing di taman kanak-kanak perlu memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik sehingga dapat menyampaikan permasalahan yang dihadapi anak dan dapat mendorong orang tua untuk turut membantu mengatasi masalah yang dihadapi anaknya.

Karakteristik Pelaksanaan Bimbingan di Taman Kanak-kanak Rating: 4.5 Diposkan Oleh: khadhika

0 komentar:

Posting Komentar

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan masukan e-mail anda untuk mendapatkan kiriman materi pelajaran terbaru dari biasamembaca.blogspot.com gratis langsung ke e-mail anda

Dikirim oleh biasamembaca.com